Adaptasi
Psikologis Ibu Nifas
Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan
ibu maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi
setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.
Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan menggunakan asuhan yang
berupa memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual, kesejahteraan sosial
ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan penyuluhan secara terus menerus. Dengan
pemantauan dan asuhan yang dilakukan pada ibu dan bayi pada masa nifas
diharapkan dapat mencegah atau bahkan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka
Kematian Bayi.
Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting.
Pada masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitive, sehingga diperlukan
pengertian dari keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting dalam
hal memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan
psikologis yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan
psikologis yang patologis.
Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah
dengan hadirnya bayi yang baru lahir, dorongan serta perhatian anggota keluarga
lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah
melahirkan, ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :
1. Fase
Taking In
Fase ini merupakan fase ketergantungan
yang berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada
saat ini fokus perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri. Pengalaman selama
proses persalinan sering berulang diceritakannya. Kelelahannya membuat ibu
perlu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah
tersinggung. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap
lingkungannya.
Oleh karena itu
kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan
pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan ibu
yang memang sedang meningkat.
2. Fase
Taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari
setelah melahirkan. Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu
perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya
kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena sat ini
merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat
diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.
3. Fase
Letting Go
Fase ini merupakan fase menerima
tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan.
Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan
untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.
Ada kalanya ibu
mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut
dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami
ibu saat hamil, sehingga sulit menerima kahadiran bayinya. Perubahan perasaan
ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan.
Banyak ketakutan
dan kekhawatiran pada ibu yang baru melahirkan terjadi akibat persoalan yang
sederhana dan dapat diatasi dengan mudah atau sebenarnya dapat dicegah oleh
staf keperawatan, pengunjung dan suami, bidan dapat mengantisipasi hal-hal yang
bias menimbulkan stress psikologis. Dengan bertemu dan mengenal suami serta keluarga ibu, bidan
akan memiliki pandangan yang lebih mendalam terhadap setiap permasalahan yang
mendasarinya.
Fase-fase adaptasi ibu nifas yaitu taking in, taking hold
dan letting go yang merupakan perubahan perasaan sebagai respon alami terhadap
rasa lelah yang dirasakan dan akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat
menyesuaikan diri dengan peran barunya dan tumbuh kembali pada keadaan normal.
Walaupun perubahan-perubahan terjadi
sedemikian rupa, ibu sebaiknya tetap menjalani ikatan batin dengan bayinya
sejak awal. Sejak dalam kandungan bayi hanya mengenal ibu yang memberinya rasa
aman dan nyaman sehingga stress yang dialaminya tidak bertambah berat.
Ada kalanya ibu
mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut
baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil
sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa
lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena semua perubahan fisik dan
emosional selama beberapa bulan kehamilan.
Disini hormon
memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang
berbeda. Setelah
melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami
perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga membutuhkan waktu untuk
menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat
membuat perbedaan besar pada kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami,
orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara
perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh
kembali dalam keadaan normal.
Post partum blues ini dialami 80% wanita setelah bersalin
yaitu merupakan semacam perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu dan
timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan.
Etiologi : berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh
wanita selama kehamilan dan perubahan cara hidupnya sesudah mempunyai bayi,
perubahan hormonal, adanya perasaan kehilangan secara fisik sesudah melahirkan
yang menjurus pada suatu perasaan sedih.
Penyebab yang menonjol adalah :
1. Kekecewaan
emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita
selama kehamilan dan persalinan.
2. Rasa
sakit pada masa nifas
3. Kelelahan
karena kurang tidur selama persalinan
4. Kecemasan
ketidakmampuan merawat bayi setelah pulang dari rumah sakit
Rasa takut tidak menarik lagi bagi
suami
Gejala-gejalanya antara lain :
Sangat emosional, sedih, khawatir, kurang percaya diri,
mudah tersinggung, merasa hilang semangat, menangis tanpa sebab jelas, kurang
merasa menerima bayi yang baru dilahirkan, sangat kelelahan, harga diri rendah,
tidak sabaran, terlalu sensitive, mudah marah dan gelisah.
Hal-hal yang dapat dilakukan seorang bidan :
1. Menciptakan
ikatan antara bayi dan ibu sedini mungkin
2. Memberikan
penjelasan pada ibu, suami dan keluarga bahwa hal ini merupakan suatu hal yang
umum dan akan hilang sendiri dalam dua minggu setelah melahirkan.
3. Simpati,
memberikan bantuan dalam merawat bayi dan dorongan pada ibu agar tumbuh rasa
percaya diri.
4. Memberikan
bantuan dalam merawat bayi
5. Menganjurkan
agar beristirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi
Post partum blues ini apabila tidak ditangani secara tepat
dapat menjadi lebih buruk atau lebih berat, post partum yang lebih berat
disebut post partum depresi (PPD) yang melanda sekitar 10% ibu baru.
Gejala-gejalanya : sulit tidur bahkan saat bayi telah tidur,
nafsu makan hilang, perasaan tidak berdaya atau kehilangan control, terlalu
cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi, tidak menyukai atau takut
menyentuh bayi, pikiran yang menakutkan mengenai bayi, sedikit atau tidak ada
perhatian terhadap penampilan pribadi, gejala fisik seperti banyak wanita sulit
bernafas atau perasaan berdebar-debar. Jika ditemukan sejak dini penyakit ini
dapat disembuhkan dengan obat-obatan dan konsultasi dengan psikiater, jika
depresi yang ibu alami berkepanjangan mungkin ibu perlu perawatan dirumah
sakit.
Oleh karena itu penting sekali bagi
seorang bidan untuk mengetahui gejala dan tanda dari post partum blues sehingga
dapat mengambil tindakan mana yang dapat diatasi dan mana yang memerlukan
rujukan kepada yang lebih ahli dalam bidang psikologi.
postpartum Blues
Dalam tiga sampai lima hari setelah melahirkan, hingga 80 persen dari ibu dapat mengalami gangguan emosi sementara atau 'postpartum Blues'. Perubahan ini dalam suasana hati mungkin karena perubahan yang cepat hormonal setelah melahirkan, kurang tidur, kekecewaan emosional dan tekanan menjadi ibu baru.
Wanita menemukan diri mereka mengalami perubahan suasana hati yang cepat dari kebahagiaan kesedihan. Mereka mungkin merasa gelisah, mudah marah, menangis, putus asa, depresi, atau tak berdaya. Pada kebanyakan wanita, 'blues' menyelesaikan sendiri tanpa pengobatan dalam waktu satu atau dua minggu. Jika suasana hati seorang wanita tidak membaik, wanita mungkin mengalami depresi pascamelahirkan.
Cari tahu tentang sumber daya di komunitas Anda untuk postpartum blues.
Dalam tiga sampai lima hari setelah melahirkan, hingga 80 persen dari ibu dapat mengalami gangguan emosi sementara atau 'postpartum Blues'. Perubahan ini dalam suasana hati mungkin karena perubahan yang cepat hormonal setelah melahirkan, kurang tidur, kekecewaan emosional dan tekanan menjadi ibu baru.
Wanita menemukan diri mereka mengalami perubahan suasana hati yang cepat dari kebahagiaan kesedihan. Mereka mungkin merasa gelisah, mudah marah, menangis, putus asa, depresi, atau tak berdaya. Pada kebanyakan wanita, 'blues' menyelesaikan sendiri tanpa pengobatan dalam waktu satu atau dua minggu. Jika suasana hati seorang wanita tidak membaik, wanita mungkin mengalami depresi pascamelahirkan.
Cari tahu tentang sumber daya di komunitas Anda untuk postpartum blues.
PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS MASA NIFAS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah
plasenta keluar dan berakhir ketika alat- alat kandungan kembali seperti
keadaan semula (sebelum hamil). Biasanya berlangsung selama lebih kurang 6-8
minggu.
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan
fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya.
Tidak heran bila ibu mengalami sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa
kerepotan. Masa ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan
pembelajaran.
Peran bidan sangat lah dibutuhkan ibu sebagai pembimbing
dan pemberi nasehat demi kesehatan ibu dan anaknya. Ibu biasanya akan mengalami
atau merasakan hal-hal yang baru setelah melahirkan. Beberapa ibu setelah
melahirkan akan mengalami masa –masa sulit ibu akan terpengaruh dengan
lingkungan sekitarnya. Ibu akan mulai beradaptasi dengan hal yang baru seperti
adanya bayi.
Tidak sedikit bayi tidak terselamatkan, baik dalam waktu
kehamilan, persalinan maupun waktu setelah dilahirkan. Ibu yang bayinya tidak
terselamatkan akan mengalami kesedihan yang mendalam. Maka dari itu bidan
sangat berperan dalam masalah ini untuk memberikan asuhan kepada ibu.
1.2 Tujuan
Penulis menulis
makalah ini agar bisa menambah wawasan penulis tentang adaptasi psikologi ibu
masa nifas.
BAB II
ISI
2.1 ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU MASA NIFAS
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang
juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Tidak heran bila
ibu mengalami sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa kerepotan. Masa
ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
Reva Rubin membagi peiode ini menjadi 3 bagian, yaitu :
1.
Periode taking in
a.
Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan. Ibu biasanya masih
pasif dan hanya memperhatikan tubuhnya.
b.
Ibu mungkin akan mengulang-ulang menceritakan pengalamannya waktu
melahirkan
c.
Tidur tanpa gangguan sangat penting untuk mengurangi gangguan kesehatan
akibat kurang istirahat.
d.
Peningkatan nutrisi juga sangat dibutuhkan ibu untuk pemulihan dan
persiapan proses laktasi.
e.
Dalam memberikan asuhan, bidan harus menjadi pendengar yang baik bagi
ibu untuk memfasilitasi kebutuhan psikologis ibu.
2.
Periode taking hold
a.
Preiode ini berlangsung pada hari ke 2-4 post partum
b.
Ibu berubah menjadi perhatian dan bertangguang jawab terhadap bayinya.
c.
Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, BAB, BAK, serta
kesehatan dan ketahanan tubuhnya.
d.
Ibu akan berusaha keras untuk menguasai keterampilan perawatan bayi.
e.
Ibu biasanya agak sensitive dan merasa tidak mahir dalam melakukan
hal-hal tersebut.
f.
Bidan harus tanggap trhadap kemungkinan terhadap perubahan yanjg
terjadi.
g.
Tahap ini merupakan tahapan yang baik bagi bidan untuk memberikan
asuhan.
3.
Periode letting go
a.
periode ini biasanya terjadi setelah ibu pulang ke rumah. Periode ini
pun sangat berpengaruh terhadap waktu
dan perhatihan yang diberikan oleh
keluarga
b.
ibu akan mengambil alih tanggung jawab pada perawatan bayi.
c.
Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini.
Factor-faktor
yang mempengaruhi suksesnya masa
transisi ke masa menjadi orang tua pada saat post partum, antara lain :
¶ Respon dan
dukungan keluarga dan teman
Ibu yang baru melahirkan teruma baru pertama kali melahirkan akan sangat
membutuhkan dukungan atau respon yang positif dari keluarga dan teman . karena
akan mempercepat proses adaptasi terhadap peran baru sebagai ibu.
¶ Hubungan dari
pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirsasi
Melahirkan adalah suatu hal yang sangat mewarnai perasaan
ibu. Ia dapat merasakan bagaimana
rasanya menjadi seorang ibu. Sehingga akan memperdekat hubungan ibu dengan
ibunya.
¶ Pengalaman
melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
Walaupun bukan lagi pengalaman pertamanya lagi, namun kebutuhan untuk
mendapatkan dukungan positif dari
lingkungannya.
¶ Pengaruh
budaya
Adanya adat istiadat yang dianut oleh lingkungan dan keluarga
sedikit banyak akan mempengaruhi keberhasilan
ibu dalam melewati saat transisi ini.
2.2 POST PARTUM BLUES
Fenomena pasca partum awal atau baby blues merupakan sekuel umum
kelahiran bayi yang biasanya terjadi pada 70 % wanita. Hal ini disebabkan
karena lingkungan tempat melahirkan yang kurang mendukung, perubahan hormone
yang cepat, dan keraguan terhadap peran yang baru.
Post partum blues biasanya dimulai pada beberapa hari setelah kelahiran
dan berakhir setelah 10-14 hari. Karakteristiknya merupakan menangis, merasa
letih karena melahirkan, gelisah, perubahan alam perasaan, menarik diri, serta reaksi negative terhadap bayi dan
keluarga. Kunci umtuk mendukung wanita
dalam melalui periode ini yaitu dengan memberikan perhatian dan dukungan yang
baik baginya, serta meyakinkan bahwa ia adalah orang yang sangat berarti bagi
keluarga dan suaminya. Dan juga memberikan kesempatan beristirahat yang cukup.
2.3 KESEDIHAN DAN DUKA CITA
Berduka diartikan sebagai respon psikologis terhadap kehilangan. Derajat
kehialangan pada individu direflesikan dalam respon terhadap kehilangan.
Contohnya kematian dapat menimbulkan respon berduka yang ringan hingga berat.
Hal ini tergantung dari hubungan dan kedekatan orang yang meninggal tersebut.
Berduka dibagi menjadi 3 tahap, antara lain :
1.
Tahap syok
Tahap
ini merupakan tahap awal dari kehilangan. Manifrestasi perilaku meliputi :
menyamngkal, ketidakpercayaan, marah, jengkel, ketakutan, kecemasan, rasa
bersalah, kekosongan, kesendirian, kesedihan, isolasi, mati rasa, menangis,
tidak rasional, bermusuhan, kebencian,
kegentiran, kewaspadaan akut, kurang inisiatif, dan kurang konsentrasi.
Manifrestasi fisik meliputi : menghela nafas, penurunan berat badan, tidur
tidak tenang, keletihan, lesu dan lemah.
2.
Tahap penderitaan (fase realitas)
Tahap
ini dimana terjadi penerimaan terhadap fakta kehilangan dan upaya penyesuaian
terhadap realitas yang harus ia lakukan. Selama masa ini, kehidupan orang yang
berduka akan terus berlanjut. Saat individu terus melanjutkan tugasnya untuk
berduka, dominasi kehilangannya secara bertahap berubah menjadi kecemasan
terhadap masa depan.
3.
Tahap resolusi (fase menentukan hubungan yang bermakna)
Selama
periode ini, orang yang berduka menerima kehilangan, penyesuaian telah komplet,
dan individu kembali pada fungsinya secara sepenuh. Bidan dapat membantu dalam
melewati proses berduka.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang
juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Tidak heran bila
ibu mengalami sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa kerepotan. Masa
ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
Dalam teori Reva Rubin membagi
peiode ini menjadi 3 bagian, yaitu : Periode taking in, periode talking hold
dan teori letting go. Adapun Factor-faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang
tua pada saat post partum, antara lain : respon dan dukungan keluarga dan
teman, hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirsasi,
pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu dan pengaruh budaya.
Berduka diartikan sebagai respon psikologis terhadap kehilangan Berduka
dibagi menjadi 3 tahap, antara lain : tahap syok, tahap penderitaan (fase
realitas), tahap resolusi (fase menentukan hubungan yang bermakna)
3.2
Saran
Masa nifas
adalah masa yang sangat rentan bagi ibu, maka dari itu ibu harus sangat
diperhatikan, baik keluarga maupun bidan. Karena ibu pada masa ini akan banyak mengalami perubahan
baik fisik maupun pskologis.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, begitu juga dengan
penulis. Bila dalam pembuatan Makalah ini ada kekurangan, penulis mengharapkan
kritikan dan saran dari pembaca guna penyempurnaan Makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku
Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Andi : Yogyakarta.
BLUES NIFAS
Postpartum blues mengacu pada kondisi transien yang ditandai dengan ringan , dan sering cepat , perubahan suasana hati dari kegembiraan kesedihan , lekas marah , kecemasan , penurunan konsentrasi , insomnia , tearfulness , dan menangis mantra [ 4 ] . Empat puluh sampai 80 persen wanita postpartum mengembangkan perubahan mood tersebut , umumnya dalam dua sampai tiga hari dari pengiriman . Gejala biasanya puncak pada hari postpartum kelima dan menyelesaikan dalam waktu dua minggu [ 1 ] . Sebagai perbandingan , diagnosis depresi mayor dan minor mengharuskan mood atau kehilangan minat / kesenangan dan gejala khas lainnya tertekan hadir hampir sepanjang hari , hampir setiap hari , setidaknya dua minggu . ( Lihat " Manifestasi klinis dan diagnosis depresi " . )
Etiologi - Meskipun tidak ada data yang konklusif mengenai etiologi postpartum blues , beberapa faktor mungkin terlibat . Perubahan hormonal dramatis pada partus kemungkinan memainkan peran, namun penelitian telah menunjukkan hasil sumbang [ 4-7 ] . Meskipun semua wanita mengalami fluktuasi hormonal postpartum , beberapa wanita mungkin lebih sensitif terhadap perubahan ini daripada yang lain [ 8
Postpartum blues mengacu pada kondisi transien yang ditandai dengan ringan , dan sering cepat , perubahan suasana hati dari kegembiraan kesedihan , lekas marah , kecemasan , penurunan konsentrasi , insomnia , tearfulness , dan menangis mantra [ 4 ] . Empat puluh sampai 80 persen wanita postpartum mengembangkan perubahan mood tersebut , umumnya dalam dua sampai tiga hari dari pengiriman . Gejala biasanya puncak pada hari postpartum kelima dan menyelesaikan dalam waktu dua minggu [ 1 ] . Sebagai perbandingan , diagnosis depresi mayor dan minor mengharuskan mood atau kehilangan minat / kesenangan dan gejala khas lainnya tertekan hadir hampir sepanjang hari , hampir setiap hari , setidaknya dua minggu . ( Lihat " Manifestasi klinis dan diagnosis depresi " . )
Etiologi - Meskipun tidak ada data yang konklusif mengenai etiologi postpartum blues , beberapa faktor mungkin terlibat . Perubahan hormonal dramatis pada partus kemungkinan memainkan peran, namun penelitian telah menunjukkan hasil sumbang [ 4-7 ] . Meskipun semua wanita mengalami fluktuasi hormonal postpartum , beberapa wanita mungkin lebih sensitif terhadap perubahan ini daripada yang lain [ 8
Adaptasi
Psikologis Ibu Nifas
Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan
ibu maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi
setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.
Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan menggunakan asuhan yang
berupa memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual, kesejahteraan sosial
ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan penyuluhan secara terus menerus. Dengan
pemantauan dan asuhan yang dilakukan pada ibu dan bayi pada masa nifas
diharapkan dapat mencegah atau bahkan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka
Kematian Bayi.
Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting.
Pada masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitive, sehingga diperlukan
pengertian dari keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting dalam
hal memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan
psikologis yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan psikologis
yang patologis.
Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah
dengan hadirnya bayi yang baru lahir, dorongan serta perhatian anggota keluarga
lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah
melahirkan, ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :
1. Fase
Taking In
Fase ini merupakan fase ketergantungan
yang berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada
saat ini fokus perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri. Pengalaman selama
proses persalinan sering berulang diceritakannya. Kelelahannya membuat ibu
perlu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah
tersinggung. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap
lingkungannya.
Oleh karena itu
kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan
pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan ibu
yang memang sedang meningkat.
2. Fase
Taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari
setelah melahirkan. Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu
perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya
kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena sat ini
merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat
diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.
3. Fase
Letting Go
Fase ini merupakan fase menerima
tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan.
Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan
untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.
Ada kalanya ibu
mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut
dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami
ibu saat hamil, sehingga sulit menerima kahadiran bayinya. Perubahan perasaan
ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan.
Banyak ketakutan dan
kekhawatiran pada ibu yang baru melahirkan terjadi akibat persoalan yang
sederhana dan dapat diatasi dengan mudah atau sebenarnya dapat dicegah oleh
staf keperawatan, pengunjung dan suami, bidan dapat mengantisipasi hal-hal yang
bias menimbulkan stress psikologis. Dengan bertemu dan mengenal suami serta keluarga ibu, bidan
akan memiliki pandangan yang lebih mendalam terhadap setiap permasalahan yang
mendasarinya.
Fase-fase adaptasi ibu nifas yaitu taking in, taking hold
dan letting go yang merupakan perubahan perasaan sebagai respon alami terhadap
rasa lelah yang dirasakan dan akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat
menyesuaikan diri dengan peran barunya dan tumbuh kembali pada keadaan normal.
Walaupun perubahan-perubahan terjadi
sedemikian rupa, ibu sebaiknya tetap menjalani ikatan batin dengan bayinya
sejak awal. Sejak dalam kandungan bayi hanya mengenal ibu yang memberinya rasa
aman dan nyaman sehingga stress yang dialaminya tidak bertambah berat.
Ada kalanya ibu
mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut
baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil
sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa
lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena semua perubahan fisik dan
emosional selama beberapa bulan kehamilan.
Disini hormon
memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang
berbeda. Setelah
melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami
perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga membutuhkan waktu untuk
menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat
membuat perbedaan besar pada kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami,
orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara
perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh
kembali dalam keadaan normal.
Post partum blues ini dialami 80% wanita setelah bersalin
yaitu merupakan semacam perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu dan
timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan.
Etiologi : berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh
wanita selama kehamilan dan perubahan cara hidupnya sesudah mempunyai bayi,
perubahan hormonal, adanya perasaan kehilangan secara fisik sesudah melahirkan
yang menjurus pada suatu perasaan sedih.
Penyebab yang menonjol adalah :
1. Kekecewaan
emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita
selama kehamilan dan persalinan.
2. Rasa
sakit pada masa nifas
3. Kelelahan
karena kurang tidur selama persalinan
4. Kecemasan
ketidakmampuan merawat bayi setelah pulang dari rumah sakit
Rasa takut tidak menarik lagi bagi
suami
Gejala-gejalanya antara lain :
Sangat emosional, sedih, khawatir, kurang percaya diri,
mudah tersinggung, merasa hilang semangat, menangis tanpa sebab jelas, kurang
merasa menerima bayi yang baru dilahirkan, sangat kelelahan, harga diri rendah,
tidak sabaran, terlalu sensitive, mudah marah dan gelisah.
Hal-hal yang dapat dilakukan seorang bidan :
1. Menciptakan
ikatan antara bayi dan ibu sedini mungkin
2. Memberikan
penjelasan pada ibu, suami dan keluarga bahwa hal ini merupakan suatu hal yang
umum dan akan hilang sendiri dalam dua minggu setelah melahirkan.
3. Simpati,
memberikan bantuan dalam merawat bayi dan dorongan pada ibu agar tumbuh rasa
percaya diri.
4. Memberikan
bantuan dalam merawat bayi
5. Menganjurkan
agar beristirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi
Post partum blues ini apabila tidak ditangani secara tepat
dapat menjadi lebih buruk atau lebih berat, post partum yang lebih berat
disebut post partum depresi (PPD) yang melanda sekitar 10% ibu baru.
Gejala-gejalanya : sulit tidur bahkan saat bayi telah tidur,
nafsu makan hilang, perasaan tidak berdaya atau kehilangan control, terlalu
cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi, tidak menyukai atau takut
menyentuh bayi, pikiran yang menakutkan mengenai bayi, sedikit atau tidak ada
perhatian terhadap penampilan pribadi, gejala fisik seperti banyak wanita sulit
bernafas atau perasaan berdebar-debar. Jika ditemukan sejak dini penyakit ini
dapat disembuhkan dengan obat-obatan dan konsultasi dengan psikiater, jika
depresi yang ibu alami berkepanjangan mungkin ibu perlu perawatan dirumah sakit.
Oleh karena itu penting sekali bagi
seorang bidan untuk mengetahui gejala dan tanda dari post partum blues sehingga
dapat mengambil tindakan mana yang dapat diatasi dan mana yang memerlukan
rujukan kepada yang lebih ahli dalam bidang psikologi.
Mengenali Baby Blues ( Postpartum Depression )
Oleh Amy Bellows , Ph.D.
Bayi baru Anda di sini ! Semua orang gembira , bahagia , dan bersyukur bahwa kelahiran berjalan lancar dan Anda keluar dari itu baik-baik saja . Jadi kenapa Anda merasa sedih tanpa alasan ? Apakah perasaan ini akan berakhir?
Minggu-minggu dan bulan-bulan yang mengikuti setelah kegembiraan awal kelahiran bayi baru bisa menjadi coaster emosi rol untuk ibu baru . Banyak wanita mengalami " baby blues " , bentuk ringan dari depresi yang berlangsung satu minggu sampai sepuluh hari setelah bayi lahir , dan sepenuhnya 10 % dari ibu baru melaporkan merasa setidaknya beberapa depresi selama periode postpartum .
Ada beberapa penyebab untuk blues ibu terasa setelah kelahiran anak . Untuk satu hal , tingginya tingkat hormon yang menjadi karakteristik dari kehamilan kini menerjang kembali ke tingkat normal , menyeret emosi Anda di sekitar dengan mereka . Untuk hal lain , realitas harus benar-benar bertanggung jawab untuk bayi baru Anda setiap kebutuhan adalah pembatasan besar kebebasan relatif Anda mungkin telah dinikmati sebelum bayi Anda lahir .
Sebagian besar waktu , "baby blues " pergi sendiri pada waktunya ( sebagian besar waktu dalam beberapa minggu atau bulan ) . Namun, bagi sebagian wanita ( terutama ibu muda ) biru ini bisa menjadi lebih parah dan jangka panjang . Postpartum depression dapat terjadi kapan saja dalam waktu enam bulan melahirkan , dan jika tidak diobati , dapat berlangsung lebih lama dari satu tahun . Gejala-gejala depresi postpartum meliputi:
Merasa tersinggung , sedih, putus asa , atau kewalahan
Merasa mau atau tidak mampu merawat bayi yang baru
Perasaan tidak berharga atau bersalah
menangis sering
Hasrat seksual yang rendah
Tingkat energi yang rendah
Terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur atau makan
kesulitan berkonsentrasi
Keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bayi
Wanita dengan riwayat depresi atau gangguan mood , atau yang memiliki anggota keluarga yang mengalami depresi berada pada peningkatan risiko untuk mengembangkan depresi postpartum , seperti juga wanita dikenakan pajak oleh lingkungan rumah stres atau hubungan , wanita yang memiliki bayi dengan masalah kesehatan atau yang rewel , wanita mengalami keguguran jangka terlambat atau lahir mati ( dan dengan demikian tidak membawa pulang bayi ) , dan wanita yang kehamilan tidak direncanakan .
Postpartum depression biasanya sembuh dalam waktu 9 bulan setelah kelahiran bayi . Namun, perasaan yang terkait dengan depresi postpartum bisa begitu parah untuk mengganggu rutinitas sehari-hari Anda dan membuat sulit bagi Anda untuk merawat diri sendiri dan bayi Anda .
Psikoterapi , konseling , kelompok pendukung , dan obat-obatan antidepresan dapat digunakan untuk mengobati depresi postpartum . Bicaralah dengan dokter Anda jika Anda mengalami salah satu dari gejala depresi postpartum selama lebih dari dua minggu berturut-turut . Ia dapat bekerja dengan Anda untuk menemukan kombinasi perawatan yang terbaik akan membantu Anda memulihkan keseimbangan. Ingat : mengalami depresi setelah melahirkan benar-benar normal. Tidak ada rasa malu dalam meminta bantuan .
Oleh Amy Bellows , Ph.D.
Bayi baru Anda di sini ! Semua orang gembira , bahagia , dan bersyukur bahwa kelahiran berjalan lancar dan Anda keluar dari itu baik-baik saja . Jadi kenapa Anda merasa sedih tanpa alasan ? Apakah perasaan ini akan berakhir?
Minggu-minggu dan bulan-bulan yang mengikuti setelah kegembiraan awal kelahiran bayi baru bisa menjadi coaster emosi rol untuk ibu baru . Banyak wanita mengalami " baby blues " , bentuk ringan dari depresi yang berlangsung satu minggu sampai sepuluh hari setelah bayi lahir , dan sepenuhnya 10 % dari ibu baru melaporkan merasa setidaknya beberapa depresi selama periode postpartum .
Ada beberapa penyebab untuk blues ibu terasa setelah kelahiran anak . Untuk satu hal , tingginya tingkat hormon yang menjadi karakteristik dari kehamilan kini menerjang kembali ke tingkat normal , menyeret emosi Anda di sekitar dengan mereka . Untuk hal lain , realitas harus benar-benar bertanggung jawab untuk bayi baru Anda setiap kebutuhan adalah pembatasan besar kebebasan relatif Anda mungkin telah dinikmati sebelum bayi Anda lahir .
Sebagian besar waktu , "baby blues " pergi sendiri pada waktunya ( sebagian besar waktu dalam beberapa minggu atau bulan ) . Namun, bagi sebagian wanita ( terutama ibu muda ) biru ini bisa menjadi lebih parah dan jangka panjang . Postpartum depression dapat terjadi kapan saja dalam waktu enam bulan melahirkan , dan jika tidak diobati , dapat berlangsung lebih lama dari satu tahun . Gejala-gejala depresi postpartum meliputi:
Merasa tersinggung , sedih, putus asa , atau kewalahan
Merasa mau atau tidak mampu merawat bayi yang baru
Perasaan tidak berharga atau bersalah
menangis sering
Hasrat seksual yang rendah
Tingkat energi yang rendah
Terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur atau makan
kesulitan berkonsentrasi
Keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bayi
Wanita dengan riwayat depresi atau gangguan mood , atau yang memiliki anggota keluarga yang mengalami depresi berada pada peningkatan risiko untuk mengembangkan depresi postpartum , seperti juga wanita dikenakan pajak oleh lingkungan rumah stres atau hubungan , wanita yang memiliki bayi dengan masalah kesehatan atau yang rewel , wanita mengalami keguguran jangka terlambat atau lahir mati ( dan dengan demikian tidak membawa pulang bayi ) , dan wanita yang kehamilan tidak direncanakan .
Postpartum depression biasanya sembuh dalam waktu 9 bulan setelah kelahiran bayi . Namun, perasaan yang terkait dengan depresi postpartum bisa begitu parah untuk mengganggu rutinitas sehari-hari Anda dan membuat sulit bagi Anda untuk merawat diri sendiri dan bayi Anda .
Psikoterapi , konseling , kelompok pendukung , dan obat-obatan antidepresan dapat digunakan untuk mengobati depresi postpartum . Bicaralah dengan dokter Anda jika Anda mengalami salah satu dari gejala depresi postpartum selama lebih dari dua minggu berturut-turut . Ia dapat bekerja dengan Anda untuk menemukan kombinasi perawatan yang terbaik akan membantu Anda memulihkan keseimbangan. Ingat : mengalami depresi setelah melahirkan benar-benar normal. Tidak ada rasa malu dalam meminta bantuan .
Postpartum Blue Umum di Sosial dan Ekonomi Ibu Insecure
Narasimhaiah G Manjunath , Giriyappa Venkatesh , dan Rajanna
Informasi artikel tambahan
pengantar
Periode postpartum adalah periode yang berhubungan dengan perubahan fisik dan emosional yang menyebabkan kecemasan dan suasana hati gangguan . Ada tiga derajat gangguan postpartum mood, yaitu , " baby blues " , postpartum depression ( PPD ) , dan postpartum psikosis . ( 1 ) biru Postpartum ( PPB ) , jika tidak " baby blues , " yang relatif lebih ringan di alam dan yang paling yang umum . ( 2 ) Hal ini biasanya dimulai 1 sampai 3 hari setelah kelahiran dan dibedakan oleh perubahan tiba-tiba suasana hati, menangis dijelaskan , mudah marah dan tidak sabar, kurang tidur , menangis mantra , kecemasan , kesepian , dan perasaan kerentanan . ( 3 )
Sekitar 60-80 % dari semua ibu baru menderita PPB yang jarang membutuhkan obat dan biasanya mereda dengan dukungan dan pendidikan . ( 4 ) Hal ini penting untuk melaksanakan tindak lanjut , karena sampai dengan 20 % dari ibu-ibu ini cenderung ( 5 ) kemajuan untuk PPD dan konsekuensi yang merugikan pada pertumbuhan kognitif anak . penyebab pasti dari PPB tidak diketahui , tetapi berbagai faktor seperti perubahan hormon , faktor sosial budaya , kondisi ekonomi , dan konflik hubungan telah ditemukan terkait . ( 6 )
Narasimhaiah G Manjunath , Giriyappa Venkatesh , dan Rajanna
Informasi artikel tambahan
pengantar
Periode postpartum adalah periode yang berhubungan dengan perubahan fisik dan emosional yang menyebabkan kecemasan dan suasana hati gangguan . Ada tiga derajat gangguan postpartum mood, yaitu , " baby blues " , postpartum depression ( PPD ) , dan postpartum psikosis . ( 1 ) biru Postpartum ( PPB ) , jika tidak " baby blues , " yang relatif lebih ringan di alam dan yang paling yang umum . ( 2 ) Hal ini biasanya dimulai 1 sampai 3 hari setelah kelahiran dan dibedakan oleh perubahan tiba-tiba suasana hati, menangis dijelaskan , mudah marah dan tidak sabar, kurang tidur , menangis mantra , kecemasan , kesepian , dan perasaan kerentanan . ( 3 )
Sekitar 60-80 % dari semua ibu baru menderita PPB yang jarang membutuhkan obat dan biasanya mereda dengan dukungan dan pendidikan . ( 4 ) Hal ini penting untuk melaksanakan tindak lanjut , karena sampai dengan 20 % dari ibu-ibu ini cenderung ( 5 ) kemajuan untuk PPD dan konsekuensi yang merugikan pada pertumbuhan kognitif anak . penyebab pasti dari PPB tidak diketahui , tetapi berbagai faktor seperti perubahan hormon , faktor sosial budaya , kondisi ekonomi , dan konflik hubungan telah ditemukan terkait . ( 6 )
PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU PADA MASA NIFAS
5.1. Adaptas psikologis ibu masa nifas
Periode
masa nifas merupakan waktu dimana ibu mengalami stress pasca persalinan,
terutama pada ibu primipara. Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi
pada masa nifas adalah sebagai berikut
v
Fungsi yang memengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi menjadi
orang tua
v
Respons dan dukungan dari keluarga dan teman dekat
v
Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya
v
Harapan, keinginan, dan aspirasi ibu saat hamil juga melahirkan
Periode ini di ekspresikan oleh reva rubin yang terjadi pada
tiga tahap berikut ini
1. Taking
in period
Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu
masih pasif dan sangat bergantung pada orang lain, focus perhatian pada
tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang
dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat.
2. Taking
hold period
Berlangsung 3-4 hari postpartum, ibu lebih
berkonsentrasi pada kemampuannya daalm menerima tanggung jawab sepenuhnya
terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitif, sehingga
membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang di
alami ibu.
3. Letting
go period
Di alami setelah tiba ibu dan bayi dirumah. Ibu mulai secara
penuh menerima tanggung jawab sebagai ‘’seorang ibu’’ dan menyadari atau merasa
kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya.
Hal-hal yang harus dapat di penuhi selama masa nifas adalah
sebagi berikut
ü
Fisik. Istirahat, memkan makanan bergizi, sering menghirup udara segar,
dan lingkungan yang bersih.
ü
Psikologi. Stress setelah persalinandapat segera distabilkan dengan
dukungan dari keluarga yang menunjukan rasa simpati, mengakui dan menghargai
ibu.
ü
Social. Menemani ibu bila terlihat kesepian, ikut menyayangi anaknya,
menanggapi dan memerhatikan kebahagian ibu, serta menghibur bila ibu erlihat
sedih.
ü
Psikososial
Tujuan asuhan kebidanan pada masa nifas adalah sebagai
berikut
Ø
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologisnya.
Ø
Melaksanakan skrining yang komprehesif, mendeteksi masalah, serta
mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
Ø
Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi keluarga berencana, menyusui, serta pemnerian imunisasi kepada bayinya
dan perawatan bayi sehat.
Ø
Membarikan pelayanan keluarga berencana.
Depresi post partum sering terjadi pada masa ini. Menurut
para ahli mereka didiagnosis menderita depresi post partum. Depresi merupakan
gangguan afeksi yang paling sering dijumpai pada msa post partum (gorrie,1998).
Walaupun insidensinya sulit untuk dketahui secara pasti, namun diyakini 10-15 %
ibu yang melahirkan mengalami gangguan ini (green dan adams, 1993). Angka
kejadian depresi post partum diindonesia sendiri juga belum dapat diketahui
secara pasti hingga kini, mengingat belum adanya lembaga terkait yang melakukan
penelitian terhadap kasus tersebut.
Tanda dan gejala yang mungkin diperlihatkan pada penderita
depresi post partum adalah sebagai berikut
Perasaan sedih dan kecewa
Sering menangis
Merasa gelisah dan cemas
Kehilangan ketertarika terhadap hal-hal yang menyenangkan
Nafsu makan menurun
Kehilangan energy dan motivasi untuk melakukan sesuatu
Tidak bias tidur atau insomnia
Perasaan bersalah dan putus harapan (hopelees)
Penurunan atau peningkatan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
Memperlihatkan penurunan untuk mengurus bayinya
Penyebab depresi postpartum sendiri belum diketahui secara
pasti (gorrie, 1998). Namun, beberapa hal yang dicurigai sebagai factor
predisposisi terjadinya depresi postpartum adalah sebagai berikut.
·
Perubahan hormonal yang cepat.hormon yang terkait dengan terjadinya
depresi postpartum adalh prolaktin, steroid, progesterone, dan estrogen.
·
Masalah medis dalam kehamilan seperti PIH (pregnancy-induced
hypertention), diabetes mellitus, atau disfungsi tiroid.
·
Riwayat depresi, penyakit mental, dan alkoholik, baik pada diri ibu
maupun pada dalam keluarga
·
Karakter pribadi seperti harga diri rendah ataupun ketidakdewasaan
·
Marital dysfunction ataupun ketidakmampuan membina hubungan dengan orang
lain yang mengakibatkan kurangnya support system
·
Marah dengan kehamilannya (unwanted pregnancy)
·
Merasa terisolasi
·
Kelemahan, gangguan tidur, ketakutan terhadap masalh keuangan keluarga,
dan melahirkan anak dengan kecacatan atau penyakit
Beberapa intervensi berikut dapat membantu seseorang wanita
terbebas dari ancaman depresi setelah melahirkan
o Pelajari
diri sendiri
o Tidur
dan makan yang cukup
o Olahraga
o Hindari
perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
o Beritahukan
perasaan anda
o Dukungan
keluarga dan orang lain di perlukan
o Persiapkan
diri dengan baik
o Lakukan
pekerjaan rumah tangga
o Dukungan
emosional
o Dukungan
kelompok depresi postpartum
5.2. Post partum blues
Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah
melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga
dua minggu sejak kelahiran bayi. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita
dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu
atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis.
Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya
tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis,
salah satunya yang disebut Postpartum Blues.
Penyebab Postpartum Blues
Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya postpartum blues, antara lain:
Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya postpartum blues, antara lain:
- Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estradiol. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi.
- Faktor demografi yaitu umur dan paritas.
- Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.
- Latar belakang psikososial ibu
- Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.
Gejala Postpartum Blues
Gejala – gejala postpartum blues tampak dari perubahan sikap seorang ibu yang baru melahirkan, antara lain: mudah tersinggung (iritabilitas), menangis dengan tiba-tiba, cemas yang berlebihan, mood yang labil, clouding of consciousness, gangguan selera makan, merasa tidak bahagia, tidak mau bicara, mengalami gangguan tidur, tidak bergairah khususnya terhadap hal-hal yang semula sangat diminatinya, sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan.
5.3. Kesedihan dan duka cita
Proses kehilangan menurut Klaus dan kennel (1982) meliputi
tahapan
1. Shock (lupa
peristiwa)
2. Denial (menolak,
‘’apakah ini bayiku?’’)
3. Depresi
(menangis, sedih, ‘’kanapa saya?’’)
4. Equilibrium dan
acceptance (penurunan reaksi emosional, kadang menjadi kesedihan yang kronis)
5. Reorganization(dukungan
mutual antar orang tua)
Respons terhadap bayi cacat yang mungkin muncul
§
Fantasi anak normal vs kenyataan
§
Shock, tidak percaya, menolak
§
Frustasi, marah
§
Menarik diri
No comments:
Post a Comment