Friday, December 6, 2013

proses adaptasi ibu dalam masa nifas



Adaptasi Psikologis Ibu Nifas
Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan ibu maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan menggunakan asuhan yang berupa memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual, kesejahteraan sosial ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan penyuluhan secara terus menerus. Dengan pemantauan dan asuhan yang dilakukan pada ibu dan bayi pada masa nifas diharapkan dapat mencegah atau bahkan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting. Pada masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitive, sehingga diperlukan pengertian dari keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting dalam hal memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan psikologis yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan psikologis yang patologis.
Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir, dorongan serta perhatian anggota keluarga lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :
1. Fase Taking In
Fase ini merupakan fase ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini fokus perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Kelelahannya membuat ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya.
Oleh karena itu kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan ibu yang memang sedang meningkat.
2. Fase Taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena sat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.
3. Fase Letting Go
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.
Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil, sehingga sulit menerima kahadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan.
Banyak ketakutan dan kekhawatiran pada ibu yang baru melahirkan terjadi akibat persoalan yang sederhana dan dapat diatasi dengan mudah atau sebenarnya dapat dicegah oleh staf keperawatan, pengunjung dan suami, bidan dapat mengantisipasi hal-hal yang bias menimbulkan stress psikologis. Dengan bertemu dan mengenal suami serta keluarga ibu, bidan akan memiliki pandangan yang lebih mendalam terhadap setiap permasalahan yang mendasarinya.
Fase-fase adaptasi ibu nifas yaitu taking in, taking hold dan letting go yang merupakan perubahan perasaan sebagai respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan dan akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peran barunya dan tumbuh kembali pada keadaan normal.
Walaupun perubahan-perubahan terjadi sedemikian rupa, ibu sebaiknya tetap menjalani ikatan batin dengan bayinya sejak awal. Sejak dalam kandungan bayi hanya mengenal ibu yang memberinya rasa aman dan nyaman sehingga stress yang dialaminya tidak bertambah berat.
Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena semua perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan.
Disini hormon memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat membuat perbedaan besar pada kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami, orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh kembali dalam keadaan normal.
Post partum blues ini dialami 80% wanita setelah bersalin yaitu merupakan semacam perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu dan timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan.
Etiologi : berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita selama kehamilan dan perubahan cara hidupnya sesudah mempunyai bayi, perubahan hormonal, adanya perasaan kehilangan secara fisik sesudah melahirkan yang menjurus pada suatu perasaan sedih.


Penyebab yang menonjol adalah :
1. Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan.
2. Rasa sakit pada masa nifas
3. Kelelahan karena kurang tidur selama persalinan
4. Kecemasan ketidakmampuan merawat bayi setelah pulang dari rumah sakit
Rasa takut tidak menarik lagi bagi suami
Gejala-gejalanya antara lain :
Sangat emosional, sedih, khawatir, kurang percaya diri, mudah tersinggung, merasa hilang semangat, menangis tanpa sebab jelas, kurang merasa menerima bayi yang baru dilahirkan, sangat kelelahan, harga diri rendah, tidak sabaran, terlalu sensitive, mudah marah dan gelisah.
Hal-hal yang dapat dilakukan seorang bidan :
1. Menciptakan ikatan antara bayi dan ibu sedini mungkin
2. Memberikan penjelasan pada ibu, suami dan keluarga bahwa hal ini merupakan suatu hal yang umum dan akan hilang sendiri dalam dua minggu setelah melahirkan.
3. Simpati, memberikan bantuan dalam merawat bayi dan dorongan pada ibu agar tumbuh rasa percaya diri.
4. Memberikan bantuan dalam merawat bayi
5. Menganjurkan agar beristirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi
Post partum blues ini apabila tidak ditangani secara tepat dapat menjadi lebih buruk atau lebih berat, post partum yang lebih berat disebut post partum depresi (PPD) yang melanda sekitar 10% ibu baru.
Gejala-gejalanya : sulit tidur bahkan saat bayi telah tidur, nafsu makan hilang, perasaan tidak berdaya atau kehilangan control, terlalu cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi, tidak menyukai atau takut menyentuh bayi, pikiran yang menakutkan mengenai bayi, sedikit atau tidak ada perhatian terhadap penampilan pribadi, gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernafas atau perasaan berdebar-debar. Jika ditemukan sejak dini penyakit ini dapat disembuhkan dengan obat-obatan dan konsultasi dengan psikiater, jika depresi yang ibu alami berkepanjangan mungkin ibu perlu perawatan dirumah sakit.
Oleh karena itu penting sekali bagi seorang bidan untuk mengetahui gejala dan tanda dari post partum blues sehingga dapat mengambil tindakan mana yang dapat diatasi dan mana yang memerlukan rujukan kepada yang lebih ahli dalam bidang psikologi.



postpartum Blues


Dalam tiga sampai lima hari setelah melahirkan, hingga 80 persen dari ibu dapat mengalami gangguan emosi sementara atau 'postpartum Blues'. Perubahan ini dalam suasana hati mungkin karena perubahan yang cepat hormonal setelah melahirkan, kurang tidur, kekecewaan emosional dan tekanan menjadi ibu baru.

Wanita menemukan diri mereka mengalami perubahan suasana hati yang cepat dari kebahagiaan kesedihan. Mereka mungkin merasa gelisah, mudah marah, menangis, putus asa, depresi, atau tak berdaya. Pada kebanyakan wanita, 'blues' menyelesaikan sendiri tanpa pengobatan dalam waktu satu atau dua minggu. Jika suasana hati seorang wanita tidak membaik, wanita mungkin mengalami depresi pascamelahirkan.

Cari tahu tentang sumber daya di komunitas Anda untuk postpartum blues.

PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS MASA NIFAS

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat- alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Biasanya berlangsung selama lebih kurang 6-8 minggu.
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Tidak heran bila ibu mengalami sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa kerepotan. Masa ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
Peran bidan sangat lah dibutuhkan ibu sebagai pembimbing dan pemberi nasehat demi kesehatan ibu dan anaknya. Ibu biasanya akan mengalami atau merasakan hal-hal yang baru setelah melahirkan. Beberapa ibu setelah melahirkan akan mengalami masa –masa sulit ibu akan terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Ibu akan mulai beradaptasi dengan hal yang baru seperti adanya bayi.
Tidak sedikit bayi tidak terselamatkan, baik dalam waktu kehamilan, persalinan maupun waktu setelah dilahirkan. Ibu yang bayinya tidak terselamatkan akan mengalami kesedihan yang mendalam. Maka dari itu bidan sangat berperan dalam masalah ini untuk memberikan asuhan kepada ibu.

1.2  Tujuan
Penulis menulis makalah ini agar bisa menambah wawasan penulis tentang adaptasi psikologi ibu masa nifas.




BAB II
ISI

2.1 ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU MASA NIFAS
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Tidak heran bila ibu mengalami sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa kerepotan. Masa ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran.
Reva Rubin membagi peiode ini menjadi 3 bagian, yaitu :
1.      Periode taking in
a.       Periode ini terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan. Ibu biasanya masih pasif dan hanya memperhatikan tubuhnya.
b.      Ibu mungkin akan mengulang-ulang menceritakan pengalamannya waktu melahirkan
c.       Tidur tanpa gangguan sangat penting untuk mengurangi gangguan kesehatan akibat kurang istirahat.
d.      Peningkatan nutrisi juga sangat dibutuhkan ibu untuk pemulihan dan persiapan proses laktasi.
e.       Dalam memberikan asuhan, bidan harus menjadi pendengar yang baik bagi ibu untuk memfasilitasi kebutuhan psikologis ibu.

2.      Periode taking hold
a.       Preiode ini berlangsung pada hari ke 2-4 post partum
b.      Ibu berubah menjadi perhatian dan bertangguang jawab terhadap bayinya.
c.       Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, BAB, BAK, serta kesehatan dan ketahanan tubuhnya.
d.      Ibu akan berusaha keras untuk menguasai keterampilan perawatan bayi.
e.       Ibu biasanya agak sensitive dan merasa tidak mahir dalam melakukan hal-hal tersebut.
f.       Bidan harus tanggap trhadap kemungkinan terhadap perubahan yanjg terjadi.
g.      Tahap ini merupakan tahapan yang baik bagi bidan untuk memberikan asuhan.

3.      Periode letting go
a.       periode ini biasanya terjadi setelah ibu pulang ke rumah. Periode ini pun sangat berpengaruh  terhadap waktu dan perhatihan  yang diberikan oleh keluarga
b.      ibu akan mengambil alih tanggung jawab pada perawatan bayi.
c.       Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini.

Factor-faktor yang mempengaruhi  suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada saat post partum, antara lain :
  Respon dan dukungan keluarga dan teman
Ibu yang baru melahirkan teruma baru pertama kali melahirkan akan sangat membutuhkan dukungan atau respon yang positif dari keluarga dan teman . karena akan mempercepat proses adaptasi terhadap peran baru sebagai ibu.
  Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirsasi
Melahirkan adalah suatu hal yang sangat mewarnai perasaan ibu. Ia dapat merasakan  bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Sehingga akan memperdekat hubungan ibu dengan ibunya.
  Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
Walaupun bukan lagi pengalaman pertamanya lagi, namun kebutuhan untuk mendapatkan  dukungan positif dari lingkungannya.
  Pengaruh budaya
Adanya adat istiadat yang dianut oleh lingkungan dan keluarga sedikit banyak akan mempengaruhi keberhasilan  ibu dalam melewati saat transisi ini.

2.2 POST PARTUM BLUES
Fenomena pasca partum awal atau baby blues merupakan sekuel umum kelahiran bayi yang biasanya terjadi pada 70 % wanita. Hal ini disebabkan karena lingkungan tempat melahirkan yang kurang mendukung, perubahan hormone yang cepat, dan keraguan terhadap peran yang baru.
Post partum blues biasanya dimulai pada beberapa hari setelah kelahiran dan berakhir setelah 10-14 hari. Karakteristiknya merupakan menangis, merasa letih karena melahirkan, gelisah, perubahan alam perasaan, menarik diri,  serta reaksi negative terhadap bayi dan keluarga. Kunci umtuk mendukung  wanita dalam melalui periode ini yaitu dengan memberikan perhatian dan dukungan yang baik baginya, serta meyakinkan bahwa ia adalah orang yang sangat berarti bagi keluarga dan suaminya. Dan juga memberikan kesempatan beristirahat yang cukup.

2.3 KESEDIHAN DAN DUKA CITA
Berduka diartikan sebagai respon psikologis terhadap kehilangan. Derajat kehialangan pada individu direflesikan dalam respon terhadap kehilangan. Contohnya kematian dapat menimbulkan respon berduka yang ringan hingga berat. Hal ini tergantung dari hubungan dan kedekatan orang yang meninggal tersebut.
Berduka dibagi menjadi 3 tahap, antara lain :
1.      Tahap syok
Tahap ini merupakan tahap awal dari kehilangan. Manifrestasi perilaku meliputi : menyamngkal, ketidakpercayaan, marah, jengkel, ketakutan, kecemasan, rasa bersalah, kekosongan, kesendirian, kesedihan, isolasi, mati rasa, menangis, tidak rasional, bermusuhan,  kebencian, kegentiran, kewaspadaan akut, kurang inisiatif, dan kurang konsentrasi. Manifrestasi fisik meliputi : menghela nafas, penurunan berat badan, tidur tidak tenang,  keletihan, lesu dan lemah.

2.      Tahap penderitaan (fase realitas)
Tahap ini dimana terjadi penerimaan terhadap fakta kehilangan dan upaya penyesuaian terhadap realitas yang harus ia lakukan. Selama masa ini, kehidupan orang yang berduka akan terus berlanjut. Saat individu terus melanjutkan tugasnya untuk berduka, dominasi kehilangannya secara bertahap berubah menjadi kecemasan terhadap masa depan.

3.      Tahap resolusi (fase menentukan hubungan yang bermakna)
Selama periode ini, orang yang berduka menerima kehilangan, penyesuaian telah komplet, dan individu kembali pada fungsinya secara sepenuh. Bidan dapat membantu dalam melewati proses berduka.

BAB III
PENUTUP


3.1              Kesimpulan
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Tidak heran bila ibu mengalami sedikit perubahan perilaku dan sesekali merasa kerepotan. Masa ini adalah masa rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. 
Dalam teori  Reva Rubin membagi peiode ini menjadi 3 bagian, yaitu : Periode taking in, periode talking hold dan teori letting go. Adapun Factor-faktor yang mempengaruhi  suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada saat post partum, antara lain : respon dan dukungan keluarga dan teman, hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirsasi, pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu dan pengaruh budaya.
Berduka diartikan sebagai respon psikologis terhadap kehilangan Berduka dibagi menjadi 3 tahap, antara lain : tahap syok, tahap penderitaan (fase realitas), tahap resolusi (fase menentukan hubungan yang bermakna)

3.2              Saran 
Masa nifas adalah masa yang sangat rentan bagi ibu, maka dari itu ibu harus sangat diperhatikan, baik keluarga maupun bidan. Karena ibu  pada masa ini akan banyak mengalami perubahan baik fisik maupun pskologis.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, begitu juga dengan penulis. Bila dalam pembuatan Makalah ini ada kekurangan, penulis mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca guna penyempurnaan Makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA

Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Andi : Yogyakarta.


BLUES NIFAS

Postpartum blues mengacu pada kondisi transien yang ditandai dengan ringan , dan sering cepat , perubahan suasana hati dari kegembiraan kesedihan , lekas marah , kecemasan , penurunan konsentrasi , insomnia , tearfulness , dan menangis mantra [ 4 ] . Empat puluh sampai 80 persen wanita postpartum mengembangkan perubahan mood tersebut , umumnya dalam dua sampai tiga hari dari pengiriman . Gejala biasanya puncak pada hari postpartum kelima dan menyelesaikan dalam waktu dua minggu [ 1 ] . Sebagai perbandingan , diagnosis depresi mayor dan minor mengharuskan mood atau kehilangan minat / kesenangan dan gejala khas lainnya tertekan hadir hampir sepanjang hari , hampir setiap hari , setidaknya dua minggu . ( Lihat " Manifestasi klinis dan diagnosis depresi " . )

Etiologi - Meskipun tidak ada data yang konklusif mengenai etiologi postpartum blues , beberapa faktor mungkin terlibat . Perubahan hormonal dramatis pada partus kemungkinan memainkan peran, namun penelitian telah menunjukkan hasil sumbang [ 4-7 ] . Meskipun semua wanita mengalami fluktuasi hormonal postpartum , beberapa wanita mungkin lebih sensitif terhadap perubahan ini daripada yang lain [ 8


Adaptasi Psikologis Ibu Nifas
Masa nifas merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupan ibu maupun bayi, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Dalam memberikan pelayanan pada masa nifas, bidan menggunakan asuhan yang berupa memantau keadaan fisik, psikologis, spiritual, kesejahteraan sosial ibu/keluarga, memberikan pendidikan dan penyuluhan secara terus menerus. Dengan pemantauan dan asuhan yang dilakukan pada ibu dan bayi pada masa nifas diharapkan dapat mencegah atau bahkan menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
Perubahan psikologis mempunyai peranan yang sangat penting. Pada masa ini, ibu nifas menjadi sangat sensitive, sehingga diperlukan pengertian dari keluarga-keluarga terdekat. Peran bidan sangat penting dalam hal memberi pegarahan pada keluarga tentang kondisi ibu serta pendekatan psikologis yang dilakukan bidan pada ibu nifas agar tidak terjadi perubahan psikologis yang patologis.
Setelah proses kelahiran tanggung jawab keluarga bertambah dengan hadirnya bayi yang baru lahir, dorongan serta perhatian anggota keluarga lainnya merupakan dukungan positif bagi ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan melalui fase-fase sebagai berikut :
1. Fase Taking In
Fase ini merupakan fase ketergantungan yang berlangsung dari hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini fokus perhatian ibu terutama pada bayinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Kelelahannya membuat ibu perlu cukup istirahat untuk mencegah gejala kurang tidur, seperti mudah tersinggung. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya.
Oleh karena itu kondisi ini perlu dipahami dengan menjaga komunikasi yang baik. Pada fase ini, perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan untuk proses pemulihannya, disamping nafsu makan ibu yang memang sedang meningkat.
2. Fase Taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase taking hold, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Selain itu perasaan yang sangat sensitive sehingga mudah tersinggung jika komunikasinya kurang hati-hati. Oleh karena itu ibu memerlukan dukungan karena sat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga tumbuh rasa percaya diri.
3. Fase Letting Go
Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Keinginan untuk merawat diri dan bayinya meningkat pada fase ini.
Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut dengan baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil, sehingga sulit menerima kahadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan.
Banyak ketakutan dan kekhawatiran pada ibu yang baru melahirkan terjadi akibat persoalan yang sederhana dan dapat diatasi dengan mudah atau sebenarnya dapat dicegah oleh staf keperawatan, pengunjung dan suami, bidan dapat mengantisipasi hal-hal yang bias menimbulkan stress psikologis. Dengan bertemu dan mengenal suami serta keluarga ibu, bidan akan memiliki pandangan yang lebih mendalam terhadap setiap permasalahan yang mendasarinya.
Fase-fase adaptasi ibu nifas yaitu taking in, taking hold dan letting go yang merupakan perubahan perasaan sebagai respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan dan akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peran barunya dan tumbuh kembali pada keadaan normal.
Walaupun perubahan-perubahan terjadi sedemikian rupa, ibu sebaiknya tetap menjalani ikatan batin dengan bayinya sejak awal. Sejak dalam kandungan bayi hanya mengenal ibu yang memberinya rasa aman dan nyaman sehingga stress yang dialaminya tidak bertambah berat.
Ada kalanya ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya. Keadaan ini disebut baby blues, yang disebabkan oleh perubahan perasaan yang dialami ibu saat hamil sehingga sulit menerima kehadiran bayinya. Perubahan perasaan ini merupakan respon alami terhadap rasa lelah yang dirasakan. Selain itu, juga karena semua perubahan fisik dan emosional selama beberapa bulan kehamilan.
Disini hormon memainkan peranan utama dalam hal bagaimana ibu bereaksi terhadap situasi yang berbeda. Setelah melahirkan dan lepasnya plasenta dari dinding rahim, tubuh ibu mengalami perubahan besar dalam jumlah hormone sehingga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Disamping perubahan fisik, hadirnya seorang bayi dapat membuat perbedaan besar pada kehidupan ibu dalam hubungannya dengan suami, orang tua, maupun anggota keluarga lain. Perubahan ini akan kembali secara perlahan setelah ibu dapat menyesuaikan diri dengan peranan barunya dan tumbuh kembali dalam keadaan normal.
Post partum blues ini dialami 80% wanita setelah bersalin yaitu merupakan semacam perasaan sedih atau uring-uringan yang melanda ibu dan timbul dalam jangka waktu dua hari sampai dua minggu pasca persalinan.
Etiologi : berbagai perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita selama kehamilan dan perubahan cara hidupnya sesudah mempunyai bayi, perubahan hormonal, adanya perasaan kehilangan secara fisik sesudah melahirkan yang menjurus pada suatu perasaan sedih.


Penyebab yang menonjol adalah :
1. Kekecewaan emosional yang mengikuti rasa puas dan takut yang dialami kebanyakan wanita selama kehamilan dan persalinan.
2. Rasa sakit pada masa nifas
3. Kelelahan karena kurang tidur selama persalinan
4. Kecemasan ketidakmampuan merawat bayi setelah pulang dari rumah sakit
Rasa takut tidak menarik lagi bagi suami
Gejala-gejalanya antara lain :
Sangat emosional, sedih, khawatir, kurang percaya diri, mudah tersinggung, merasa hilang semangat, menangis tanpa sebab jelas, kurang merasa menerima bayi yang baru dilahirkan, sangat kelelahan, harga diri rendah, tidak sabaran, terlalu sensitive, mudah marah dan gelisah.
Hal-hal yang dapat dilakukan seorang bidan :
1. Menciptakan ikatan antara bayi dan ibu sedini mungkin
2. Memberikan penjelasan pada ibu, suami dan keluarga bahwa hal ini merupakan suatu hal yang umum dan akan hilang sendiri dalam dua minggu setelah melahirkan.
3. Simpati, memberikan bantuan dalam merawat bayi dan dorongan pada ibu agar tumbuh rasa percaya diri.
4. Memberikan bantuan dalam merawat bayi
5. Menganjurkan agar beristirahat yang cukup dan makan makanan yang bergizi
Post partum blues ini apabila tidak ditangani secara tepat dapat menjadi lebih buruk atau lebih berat, post partum yang lebih berat disebut post partum depresi (PPD) yang melanda sekitar 10% ibu baru.
Gejala-gejalanya : sulit tidur bahkan saat bayi telah tidur, nafsu makan hilang, perasaan tidak berdaya atau kehilangan control, terlalu cemas atau tidak perhatian sama sekali pada bayi, tidak menyukai atau takut menyentuh bayi, pikiran yang menakutkan mengenai bayi, sedikit atau tidak ada perhatian terhadap penampilan pribadi, gejala fisik seperti banyak wanita sulit bernafas atau perasaan berdebar-debar. Jika ditemukan sejak dini penyakit ini dapat disembuhkan dengan obat-obatan dan konsultasi dengan psikiater, jika depresi yang ibu alami berkepanjangan mungkin ibu perlu perawatan dirumah sakit.
Oleh karena itu penting sekali bagi seorang bidan untuk mengetahui gejala dan tanda dari post partum blues sehingga dapat mengambil tindakan mana yang dapat diatasi dan mana yang memerlukan rujukan kepada yang lebih ahli dalam bidang psikologi.




Mengenali Baby Blues ( Postpartum Depression )
Oleh Amy Bellows , Ph.D.

Bayi baru Anda di sini ! Semua orang gembira , bahagia , dan bersyukur bahwa kelahiran berjalan lancar dan Anda keluar dari itu baik-baik saja . Jadi kenapa Anda merasa sedih tanpa alasan ? Apakah perasaan ini akan berakhir?

Minggu-minggu dan bulan-bulan yang mengikuti setelah kegembiraan awal kelahiran bayi baru bisa menjadi coaster emosi rol untuk ibu baru . Banyak wanita mengalami " baby blues " , bentuk ringan dari depresi yang berlangsung satu minggu sampai sepuluh hari setelah bayi lahir , dan sepenuhnya 10 % dari ibu baru melaporkan merasa setidaknya beberapa depresi selama periode postpartum .

Ada beberapa penyebab untuk blues ibu terasa setelah kelahiran anak . Untuk satu hal , tingginya tingkat hormon yang menjadi karakteristik dari kehamilan kini menerjang kembali ke tingkat normal , menyeret emosi Anda di sekitar dengan mereka . Untuk hal lain , realitas harus benar-benar bertanggung jawab untuk bayi baru Anda setiap kebutuhan adalah pembatasan besar kebebasan relatif Anda mungkin telah dinikmati sebelum bayi Anda lahir .

Sebagian besar waktu , "baby blues " pergi sendiri pada waktunya ( sebagian besar waktu dalam beberapa minggu atau bulan ) . Namun, bagi sebagian wanita ( terutama ibu muda ) biru ini bisa menjadi lebih parah dan jangka panjang . Postpartum depression dapat terjadi kapan saja dalam waktu enam bulan melahirkan , dan jika tidak diobati , dapat berlangsung lebih lama dari satu tahun . Gejala-gejala depresi postpartum meliputi:

    Merasa tersinggung , sedih, putus asa , atau kewalahan
    Merasa mau atau tidak mampu merawat bayi yang baru
    Perasaan tidak berharga atau bersalah
    menangis sering
    Hasrat seksual yang rendah
    Tingkat energi yang rendah
    Terlalu banyak atau terlalu sedikit tidur atau makan
    kesulitan berkonsentrasi
    Keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau bayi

Wanita dengan riwayat depresi atau gangguan mood , atau yang memiliki anggota keluarga yang mengalami depresi berada pada peningkatan risiko untuk mengembangkan depresi postpartum , seperti juga wanita dikenakan pajak oleh lingkungan rumah stres atau hubungan , wanita yang memiliki bayi dengan masalah kesehatan atau yang rewel , wanita mengalami keguguran jangka terlambat atau lahir mati ( dan dengan demikian tidak membawa pulang bayi ) , dan wanita yang kehamilan tidak direncanakan .

Postpartum depression biasanya sembuh dalam waktu 9 bulan setelah kelahiran bayi . Namun, perasaan yang terkait dengan depresi postpartum bisa begitu parah untuk mengganggu rutinitas sehari-hari Anda dan membuat sulit bagi Anda untuk merawat diri sendiri dan bayi Anda .

Psikoterapi , konseling , kelompok pendukung , dan obat-obatan antidepresan dapat digunakan untuk mengobati depresi postpartum . Bicaralah dengan dokter Anda jika Anda mengalami salah satu dari gejala depresi postpartum selama lebih dari dua minggu berturut-turut . Ia dapat bekerja dengan Anda untuk menemukan kombinasi perawatan yang terbaik akan membantu Anda memulihkan keseimbangan. Ingat : mengalami depresi setelah melahirkan benar-benar normal. Tidak ada rasa malu dalam meminta bantuan .


Postpartum Blue Umum di Sosial dan Ekonomi Ibu Insecure

Narasimhaiah G Manjunath , Giriyappa Venkatesh , dan Rajanna

Informasi artikel tambahan
pengantar

Periode postpartum adalah periode yang berhubungan dengan perubahan fisik dan emosional yang menyebabkan kecemasan dan suasana hati gangguan . Ada tiga derajat gangguan postpartum mood, yaitu , " baby blues " , postpartum depression ( PPD ) , dan postpartum psikosis . ( 1 ) biru Postpartum ( PPB ) , jika tidak " baby blues , " yang relatif lebih ringan di alam dan yang paling yang umum . ( 2 ) Hal ini biasanya dimulai 1 sampai 3 hari setelah kelahiran dan dibedakan oleh perubahan tiba-tiba suasana hati, menangis dijelaskan , mudah marah dan tidak sabar, kurang tidur , menangis mantra , kecemasan , kesepian , dan perasaan kerentanan . ( 3 )

Sekitar 60-80 % dari semua ibu baru menderita PPB yang jarang membutuhkan obat dan biasanya mereda dengan dukungan dan pendidikan . ( 4 ) Hal ini penting untuk melaksanakan tindak lanjut , karena sampai dengan 20 % dari ibu-ibu ini cenderung ( 5 ) kemajuan untuk PPD dan konsekuensi yang merugikan pada pertumbuhan kognitif anak . penyebab pasti dari PPB tidak diketahui , tetapi berbagai faktor seperti perubahan hormon , faktor sosial budaya , kondisi ekonomi , dan konflik hubungan telah ditemukan terkait . ( 6 )


PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU PADA MASA NIFAS


5.1. Adaptas psikologis ibu masa nifas
            Periode masa nifas merupakan waktu dimana ibu mengalami stress pasca persalinan, terutama pada ibu primipara. Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas adalah sebagai berikut
v  Fungsi yang memengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi menjadi orang tua
v  Respons dan dukungan dari keluarga dan teman dekat
v  Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya
v  Harapan, keinginan, dan aspirasi ibu saat hamil juga melahirkan
Periode ini di ekspresikan oleh reva rubin yang terjadi pada tiga tahap berikut ini
1.       Taking in period
Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat bergantung pada orang lain, focus perhatian pada tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat.

2.       Taking hold period
Berlangsung 3-4 hari postpartum, ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannya daalm menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitif, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang di alami ibu.

3.       Letting go period
Di alami setelah tiba ibu dan bayi dirumah. Ibu mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai ‘’seorang ibu’’ dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya.
Hal-hal yang harus dapat di penuhi selama masa nifas adalah sebagi berikut
ü  Fisik. Istirahat, memkan makanan bergizi, sering menghirup udara segar, dan lingkungan yang bersih.
ü  Psikologi. Stress setelah persalinandapat segera distabilkan dengan dukungan dari keluarga yang menunjukan rasa simpati, mengakui dan menghargai ibu.
ü  Social. Menemani ibu bila terlihat kesepian, ikut menyayangi anaknya, menanggapi dan memerhatikan kebahagian ibu, serta menghibur bila ibu erlihat sedih.
ü  Psikososial
Tujuan asuhan kebidanan pada masa nifas adalah sebagai berikut
Ø  Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologisnya.
Ø  Melaksanakan skrining yang komprehesif, mendeteksi masalah, serta mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
Ø  Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi keluarga berencana, menyusui, serta pemnerian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
Ø  Membarikan pelayanan keluarga berencana.
Depresi post partum sering terjadi pada masa ini. Menurut para ahli mereka didiagnosis menderita depresi post partum. Depresi merupakan gangguan afeksi yang paling sering dijumpai pada msa post partum (gorrie,1998). Walaupun insidensinya sulit untuk dketahui secara pasti, namun diyakini 10-15 % ibu yang melahirkan mengalami gangguan ini (green dan adams, 1993). Angka kejadian depresi post partum diindonesia sendiri juga belum dapat diketahui secara pasti hingga kini, mengingat belum adanya lembaga terkait yang melakukan penelitian terhadap kasus tersebut.
Tanda dan gejala yang mungkin diperlihatkan pada penderita depresi post partum adalah sebagai berikut
      Perasaan sedih dan kecewa
      Sering menangis
      Merasa gelisah dan cemas
      Kehilangan ketertarika terhadap hal-hal yang menyenangkan
      Nafsu makan menurun
      Kehilangan energy dan motivasi untuk melakukan sesuatu
      Tidak bias tidur atau insomnia
      Perasaan bersalah dan putus harapan (hopelees)
      Penurunan atau peningkatan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
      Memperlihatkan penurunan untuk mengurus bayinya
Penyebab depresi postpartum sendiri belum diketahui secara pasti (gorrie, 1998). Namun, beberapa hal yang dicurigai sebagai factor predisposisi terjadinya depresi postpartum adalah sebagai berikut.
·         Perubahan hormonal yang cepat.hormon yang terkait dengan terjadinya depresi postpartum adalh prolaktin, steroid, progesterone, dan estrogen.
·         Masalah medis dalam kehamilan seperti PIH (pregnancy-induced hypertention), diabetes mellitus, atau disfungsi tiroid.
·         Riwayat depresi, penyakit mental, dan alkoholik, baik pada diri ibu maupun pada dalam keluarga
·         Karakter pribadi seperti harga diri rendah ataupun ketidakdewasaan
·         Marital dysfunction ataupun ketidakmampuan membina hubungan dengan orang lain yang mengakibatkan kurangnya support system
·         Marah dengan kehamilannya (unwanted pregnancy)
·         Merasa terisolasi
·         Kelemahan, gangguan tidur, ketakutan terhadap masalh keuangan keluarga, dan melahirkan anak dengan kecacatan atau penyakit
Beberapa intervensi berikut dapat membantu seseorang wanita terbebas dari ancaman depresi setelah melahirkan
o   Pelajari diri sendiri
o   Tidur dan makan yang cukup
o   Olahraga
o   Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
o   Beritahukan perasaan anda
o   Dukungan keluarga dan orang lain di perlukan
o   Persiapkan diri dengan baik
o   Lakukan pekerjaan rumah tangga
o   Dukungan emosional
o   Dukungan kelompok depresi postpartum

5.2. Post partum blues
Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis, salah satunya yang disebut Postpartum Blues.
Penyebab Postpartum Blues
Etiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya postpartum blues, antara lain:
  1. Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estradiol. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi.
  2. Faktor demografi yaitu umur dan paritas.
  3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.
  4. Latar belakang psikososial ibu
  5. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.

Gejala Postpartum Blues

Gejala – gejala postpartum blues tampak dari perubahan sikap seorang ibu yang baru melahirkan, antara lain: mudah tersinggung (iritabilitas), menangis dengan tiba-tiba, cemas yang berlebihan, mood yang labil, clouding of consciousness, gangguan selera makan, merasa tidak bahagia, tidak mau bicara, mengalami gangguan tidur, tidak bergairah khususnya terhadap hal-hal yang semula sangat diminatinya, sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan.
5.3. Kesedihan dan duka cita
Proses kehilangan menurut Klaus dan kennel (1982) meliputi tahapan
1.       Shock (lupa peristiwa)
2.       Denial (menolak, ‘’apakah ini bayiku?’’)
3.       Depresi (menangis, sedih, ‘’kanapa saya?’’)
4.       Equilibrium dan acceptance (penurunan reaksi emosional, kadang menjadi kesedihan yang kronis)
5.       Reorganization(dukungan mutual antar orang tua)
Respons terhadap bayi cacat yang mungkin muncul
§  Fantasi anak normal vs kenyataan
§  Shock, tidak percaya, menolak
§  Frustasi, marah
§  Menarik diri

No comments:

Post a Comment